22 Desa Hilang Akibat Banjir Sumatera, Aceh Jadi Wilayah Paling Terdampak
Bencana banjir besar kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera dan meninggalkan dampak yang sangat serius bagi masyarakat.
Berdasarkan data sementara dari pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana, sedikitnya 22 desa dilaporkan hilang atau rusak berat akibat terjangan banjir.
Dari jumlah tersebut, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak paling parah, menyumbang jumlah desa terdampak terbanyak.
Air bah yang datang secara tiba-tiba menyapu permukiman, lahan pertanian, hingga infrastruktur vital, memaksa ribuan warga mengungsi dalam kondisi darurat.
Temukan rangkuman informasi menarik tentang rakyat lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Sumatera Indonesia.
Aceh Menjadi Wilayah Dengan Dampak Terparah
Aceh tercatat sebagai provinsi dengan jumlah desa hilang paling banyak akibat banjir Sumatera kali ini. Beberapa kabupaten seperti Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan melaporkan kerusakan ekstrem.
Di sejumlah lokasi, desa-desa praktis lenyap dari peta karena tertimbun lumpur dan material banjir setinggi beberapa meter. Rumah warga hancur, fasilitas umum rusak berat, dan akses jalan terputus total.
Kondisi geografis Aceh yang didominasi perbukitan dan kawasan hulu sungai memperbesar risiko banjir bandang. Saat hujan lebat mengguyur wilayah pegunungan, air mengalir deras ke daerah rendah tanpa sempat tertahan.
Warga di beberapa desa bahkan tidak sempat menyelamatkan barang berharga karena banjir datang pada malam hari dengan arus yang sangat kuat.
Desa Hilang yang Mengkhawatirkan
Hilangnya 22 desa akibat banjir Sumatera tidak hanya berarti kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan dampak sosial yang mendalam.
Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan sumber penghidupan. Banyak dari mereka yang bergantung pada sektor pertanian kini harus menghadapi kenyataan sawah, kebun, dan ternak mereka rusak atau hanyut terbawa arus.
Di sejumlah lokasi pengungsian, kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan layanan kesehatan menjadi tantangan besar. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan, terutama terhadap penyakit pascabanjir.
Trauma psikologis juga mulai dirasakan oleh warga, khususnya mereka yang menyaksikan langsung desanya hilang diterjang banjir.
Baca Juga: BNPB Bergerak Cepat! Korban Banjir Bandang Beutong Ateuh Segera Punya Hunian Sementara
Faktor Lingkungan dan Kerusakan Hulu Sungai
Sejumlah pihak menilai banjir besar di Sumatera kali ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan kerusakan lingkungan.
Alih fungsi lahan di kawasan hulu sungai, pembukaan hutan, dan aktivitas tambang diduga memperburuk daya tampung tanah terhadap air hujan. Ketika hujan deras turun, air tidak lagi terserap dengan baik dan langsung mengalir deras ke wilayah permukiman.
Di Aceh dan beberapa provinsi lain di Sumatera, daerah aliran sungai mengalami degradasi yang cukup serius. Endapan sedimen di sungai juga mengurangi kapasitas aliran air, sehingga sungai lebih mudah meluap.
Para ahli lingkungan menilai bahwa tanpa upaya pemulihan ekosistem yang serius, banjir serupa berpotensi terus berulang di masa mendatang.
Terus update dirimu dengan informasi menarik setiap hari, eksklusif dan terpercaya di NASIB RAKYAT.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari antaranews.com