Desa Tandihat Tapsel Direlokasi Akibat Pergerakan Tanah, 186 KK Dapat Hunian Baru

Desa Tandihat Tapsel Direlokasi Akibat Pergerakan Tanah, 186 KK Dapat Hunian Baru

Bagikan

Desa Tandihat di Tapanuli Selatan direlokasi akibat pergerakan tanah, memberi hunian baru bagi 186 kepala keluarga terdampak.

Desa Tandihat Tapsel Direlokasi Akibat Pergerakan Tanah, 186 KK Dapat Hunian Baru

Kisah pilu datang dari Desa Tandihat, Angkola Selatan, Tapanuli Selatan. Warga harus direlokasi akibat pergerakan tanah yang merusak permukiman. Pemerintah segera bertindak, dan penyelesaian lahan untuk hunian tetap di lokasi relokasi kini gencar diupayakan. Kisah Tandihat mengingatkan betapa rentannya kehidupan di daerah rawan bencana.

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di .

Ancaman Nyata Dari Pergerakan Tanah

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Bobby Nasution bersama Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu telah meninjau langsung lokasi rencana relokasi. Lokasi baru ini berada di Desa Perkebunan Marpinggan, yang berjarak sekitar 5-6 kilometer dari Desa Tandihat. Peninjauan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana alam yang menimpa warga.

Bobby Nasution menjelaskan bahwa pembangunan hunian tetap ini bagian dari program Yayasan Buddha Tzu Chi. ‘Pak Bupati menyampaikan masyarakat memang sudah meminta pindah, karena sampai hari ini kalau hujan tanah masih bergerak,’ ujarnya. Ini menunjukkan tingkat urgensi yang tinggi.

Kondisi di Desa Tandihat mulai mengkhawatirkan sejak 25 November 2025, ketika pergerakan tanah intensif menghancurkan rumah dan akses jalan. Warga yang terdampak tidak punya pilihan selain mengungsi, dan Desa Perkebunan Marpinggan menjadi tujuan sementara mereka. Insiden ini menyoroti kerentanan geologis di wilayah tersebut.

186 KK Menanti Hunian Baru

Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu, menginformasikan bahwa sebanyak 186 Kepala Keluarga (KK) dari Desa Tandihat akan direlokasi. Badan Geologi telah memberikan rekomendasi bahwa lokasi baru di Desa Perkebunan Marpinggan layak untuk dihuni, menandakan keamanan dan stabilitas area tersebut. Keputusan ini diambil berdasarkan kajian mendalam.

“Ada 186 KK Badan Geologi sudah merekomendasi di sini layak untuk hunian untuk 186 KK,” sebut Gus Irawan Pasaribu. Total lahan yang disiapkan untuk relokasi mencapai 3,7 hektare. Ini menunjukkan skala masalah dan kebutuhan akan perencanaan yang matang untuk pemindahan seluruh komunitas.

Namun, tidak semua lahan merupakan milik pemerintah. Sekitar 2 hektare dari total lahan relokasi adalah milik pribadi warga yang dulunya kebun salak. Pemprov Sumut telah berkomitmen untuk membayar ganti rugi atas lahan tersebut, memastikan bahwa tidak ada warga yang dirugikan dalam proses pemindahan ini.

Baca Juga: BNPB Percepat Pembangunan Huntara Dengan Kerja 18 Jam Sehari

Kolaborasi Lintas Sektor Untuk Relokasi

Kolaborasi Lintas Sektor Untuk Relokasi​

Gubernur Bobby Nasution menegaskan bahwa Pemprov Sumut akan mengambil alih tanggung jawab pembebasan lahan milik warga yang seluas 2 hektare tersebut. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memperlancar proses relokasi dan memastikan warga mendapatkan kompensasi yang adil. Langkah ini krusial untuk keberlangsungan program.

Gus Irawan Pasaribu berharap Bobby Nasution dapat mengkomunikasikan hal ini kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Maruarar Sirait, serta Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan lembaga sosial menjadi kunci sukses program relokasi ini.

“Nanti tentu kita minta tolong melalui Pak Gubernur untuk komunikasikan dengan Menteri PUPR dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, kalau itu sudah disetujui itu akan segera kami matangkan lahannya,” tutur Gus. Setelah persetujuan tercapai, penyiapan lahan akan segera dilakukan, mempercepat pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak.

Harapan Baru di Tengah Tantangan

Relokasi Desa Tandihat adalah bukti nyata respons pemerintah terhadap bencana alam yang mengancam keselamatan warganya. Langkah ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal baru, tetapi juga harapan akan kehidupan yang lebih aman dan stabil bagi 186 KK yang terdampak. Pembangunan hunian tetap akan segera dilaksanakan setelah semua persiapan lahan rampung.

Koordinasi antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, hingga yayasan kemanusiaan, merupakan fondasi penting dalam penanganan bencana ini. Semangat gotong royong dan kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana tantangan besar dapat diatasi melalui kerja sama yang erat dan terstruktur.

Dengan dukungan penuh dari semua pihak, diharapkan warga Desa Tandihat dapat segera menempati hunian baru yang aman dan nyaman. Ini akan menjadi babak baru dalam kehidupan mereka, menandai titik balik dari ketidakpastian menuju stabilitas, sebuah bukti bahwa bahkan setelah bencana, harapan selalu ada.

Jangan lewatkan update berita seputaran Sumatera Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari detik.com
  • Gambar Kedua dari sumutcyber.com

Similar Posts