Tangis Pilu Warga Desa Juar, Kelaparan Berhari-Hari Pascabanjir, Bantuan Mana?

Tangis Pilu Warga Desa Juar, Kelaparan Berhari-Hari Pascabanjir, Bantuan Mana?

Bagikan

Warga Desa Juar menangis pilu, bertahan kelaparan berhari-hari pascabanjir, menunggu bantuan pemerintah dan relawan tiba.

Tangis Pilu Warga Desa Juar, Kelaparan Berhari-Hari Pascabanjir, Bantuan Mana?

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang akhir November 2025 meninggalkan luka mendalam bagi warga Desa Juar, Kecamatan Sekerak. Mereka bertahan dengan nasi basi dan air banjir, sementara bantuan terhambat akses jalan rusak. Kisah pilu ini mengguncang hati, menyoroti urgensi respons cepat pascabencana.​

Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Sumatera Indonesia.

Banjir Bandang Dahsyat Melanda

Banjir bandang menerjang Desa Juar pada akhir November 2025, menyapu habis rumah dan lahan pertanian warga. Ketinggian air mencapai dua meter, membawa lumpur tebal dan puing-puing berserakan. Ribuan jiwa mengungsi, dan akses ke desa terputus total selama berhari-hari.

Medan licin dan longsor semakin memperparah situasi, membuat kendaraan darurat kesulitan masuk. Warga di Desa Juar terisolasi, tanpa listrik maupun sinyal komunikasi. Bencana ini merupakan bagian dari gelombang luapan sungai di Aceh Tamiang yang menewaskan puluhan orang.

Pascabanjir, lumpur setinggi selutut menumpuk di rumah-rumah. Pembersihan terhenti karena keterbatasan alat berat. Kondisi ini memaksa warga bertahan di posko pengungsian yang penuh sesak dan minim fasilitas.

Kesulitan Ekstrem Mencari Makanan

Warga Desa Juar bertahan berhari-hari kelaparan, hanya mengandalkan nasi basi dan air banjir untuk minum. Anak-anak menangis kelaparan, sementara orang dewasa berjalan kaki berjam-jam mencari bantuan. Situasi memuncak saat baku hantam terjadi karena rebutan logistik yang sangat terbatas.

Air bersih sangat langka, warga terpaksa mandi dan minum dari genangan kotor. Tanpa fasilitas MCK yang layak, penyakit kulit mulai merebak di kalangan pengungsi. Relawan lokal menjadi penyelamat utama, namun masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan mulut yang kelaparan.

Kisah seorang warga Desa Juar menjadi viral di media sosial, mengungkap tangisnya tentang anak-anak yang tak kunjung kenyang. Mereka nekat berjalan jauh ke Kuala Langsa demi mendapatkan makanan. Kelaparan ini memicu kekhawatiran serius akan munculnya kasus gizi buruk massal.

Baca Juga: Sumatera Dilanda Bencana Sawah Hancur Lebur Warga Terancam Krisis Pangan

Penundaan Bantuan Yang Menyiksa

Penundaan Bantuan Yang Menyiksa​

Hingga pertengahan Desember 2025, warga Desa Juar masih belum menerima bantuan pemerintah secara merata. Jalan rusak dan longsor menghambat truk logistik masuk ke pedalaman. Dinas Sosial Aceh Tamiang mengakui distribusi lambat akibat medan yang ekstrem.

Bantuan swasta melalui jalur Medan-Salahaji mulai mengalir, namun prioritas diberikan ke desa lain. Warga Juar merasa terlupakan, meski BPBD pusat telah mengalokasikan dana darurat. Koordinasi antarinstansi dinilai kurang lincah dan efisien.

Relawan Instagram seperti @yosamhd membantu evakuasi cerita pilu dan mengajak donasi. Namun, sinyal yang hilang dan putus-putus membuat informasi real-time sulit diperoleh. Penundaan ini memperpanjang penderitaan warga dan meningkatkan risiko munculnya masalah kesehatan sekunder.

Harapan Pemulihan Dan Ajakan Bantu

Pemda Aceh Tamiang targetkan bersihkan lumpur dalam minggu ini dengan alat berat tambahan. Warga Desa Juar mulai pulang bertahap, tapi trauma kelaparan abadi. Program trauma healing dan bibit tanaman digelar untuk bangkit.​​

Donasi melalui relawan Medan-Kuala Langsa saat ini dianggap paling efektif untuk menjangkau korban secara cepat. Pemerintah berjanji melakukan rekonstruksi jalan permanen guna mencegah banjir terulang kembali di masa mendatang. Masyarakat luas diminta tetap prihatin dan terus mengirim bantuan makanan tahan lama yang dapat disimpan lama.

Kisah Desa Juar menjadi pelajaran nasional penting mengenai kesiapsiagaan bencana. Dengan semangat solidaritas dan gotong royong, Aceh Tamiang diyakini dapat bangkit lebih kuat. Mari bersama-sama ramaikan galang dana untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana.

Jangan lewatkan update berita seputaran Sumatera Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


Sumber Informasi Gambar:

  • Gambar Utama dari gemapos.id
  • Gambar Kedua dari jalurinfosulbar.id

Similar Posts