152 ribu warga Aceh menganggur, mayoritas lulusan SMA, Tantangan besar bagi pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja.
Aceh Sumatera Indonesia menghadapi tantangan besar di dunia kerja. Sebanyak 152 ribu warganya menganggur, didominasi lulusan SMA, memicu kebutuhan strategi kerja dan pelatihan keterampilan.
Data Terbaru Pengangguran Aceh
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Aceh mencapai 152 ribu orang atau sekitar 5,60 persen. Penduduk usia kerja pada November 2025 tercatat 4,17 juta orang, dengan 2,72 juta termasuk angkatan kerja dan 1,45 juta lainnya bukan angkatan kerja.
Kompisis angkatan kerja pada November 2025 terdiri atas 2,56 juta orang penduduk yang bekerja dan 152 ribu orang pengangguran. Apabila dibandingkan Agustus 2025, terjadi penambahan penyerapan tenaga kerja sekitar 3 ribu orang, kata Agus dalam konferensi pers di Kantor BPS Aceh, Kamis (5/1/2026).
Data ini menunjukkan meski sebagian besar penduduk bekerja, sebagian masih menghadapi kesulitan terserap pasar kerja, terutama bagi lulusan perguruan tinggi.
Tingkat Pengangguran Terbuka Dan Partisipasi Angkatan Kerja
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi indikator kunci untuk mengetahui seberapa besar tenaga kerja tidak terserap oleh pasar kerja. Hasil Sakernas per 5 Januari 2026 menunjukkan lima sampai enam dari 100 orang di Aceh berada dalam kategori pengangguran.
TPT laki-laki sebesar 4,02 persen, lebih rendah dibandingkan TPT perempuan yang mencapai 8,33 persen. Perbedaan ini mencerminkan kesenjangan gender dalam akses lapangan kerja.
Dari sisi lokasi, pengangguran perkotaan lebih tinggi yakni 8,12 persen dibanding perdesaan sebesar 3,85 persen. Penurunan TPT sebesar 0,04 persen poin dibanding Agustus 2025 menunjukkan perbaikan kecil namun berarti bagi angkatan kerja.
Baca Juga: Belum Pulih Dari Luka Lama, Padang Kembali Waspada Banjir Bandang
Dominasi Pekerja Lulusan SMA
Pekerja di Aceh mayoritas merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan persentase mencapai 33,94 persen. Hal ini menandakan bahwa tingkat pendidikan menengah masih menjadi dasar penyedia tenaga kerja terbesar.
Sementara itu, lulusan sarjana atau Diploma IV/S1/S2/S3 hanya mencapai 15,26 persen. Meskipun lebih sedikit, kelompok ini justru mendominasi pengangguran karena keterbatasan lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi akademik.
Pengangguran tertinggi terdapat pada tamatan perguruan tinggi sebesar 8,68 persen, sedangkan lulusan SMP dan SD ke bawah lebih rendah masing-masing 3,15 persen dan 2,59 persen. Hal ini menekankan perlunya penciptaan lapangan kerja berbasis keahlian tinggi.
Sektor Pekerjaan Yang Menyerap Tenaga Kerja
Tiga sektor utama yang menyerap tenaga kerja di Aceh adalah pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintahan. Pertanian menyerap 38,75 persen pekerja, menunjukkan dominasi sektor primer di daerah ini.
Perdagangan menempati posisi kedua dengan 14,57 persen, sementara administrasi pemerintahan menyerap 7,22 persen. Ketiga sektor ini menjadi tulang punggung lapangan kerja Aceh.
Meski sektor ini menyerap sebagian besar tenaga kerja, kebutuhan keterampilan baru dan diversifikasi lapangan kerja tetap penting untuk menekan angka pengangguran lebih lanjut.
Tantangan Dan Strategi Mengurangi Pengangguran
Aceh menghadapi tantangan besar untuk menurunkan pengangguran, terutama bagi lulusan perguruan tinggi yang kesulitan terserap pasar kerja. Pemerintah perlu mendorong program pelatihan keterampilan dan wirausaha.
Selain itu, perlu adanya pengembangan sektor industri kreatif dan digital yang bisa menampung lulusan SMA dan perguruan tinggi secara merata. Diversifikasi sektor ini akan membantu menyeimbangkan distribusi tenaga kerja.
Upaya penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan penempatan strategis di sektor yang tumbuh akan menjadi kunci menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari ajnn.net




