Medan Belawan kembali bergejolak. Sebuah tawuran antar dua kelompok remaja di Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, berakhir tragis.
Insiden ini menelan korban jiwa, seorang pedagang ikan tak berdosa, yang diduga terkena panah nyasar.
Berikut ini, Sumatera Indonesia akan menyoroti peristiwa memilukan yang menambah daftar panjang kekerasan jalanan yang meresahkan warga.
Kekerasan Berulang Di Belawan
Tawuran di Belawan, menurut kesaksian Rommy, seorang warga setempat, telah menjadi fenomena yang hampir terjadi setiap hari. Puncaknya seringkali terjadi pada malam Minggu, ketika dua kubu remaja terlibat bentrokan hingga pagi hari. Kondisi ini menciptakan suasana mencekam dan rasa tidak aman bagi penduduk sekitar.
Pada Minggu (8/2/2026) sekitar pukul 05.30 WIB, kekerasan kembali pecah dan kali ini memakan korban. “Kalau tawuran hampir tiap hari di sini, puncaknya malam Minggu. Kalau hari Sabtu sampai pagi mereka tawuran,” ucap Rommy, menggambarkan intensitas dan frekuensi bentrokan yang kerap terjadi.
Kejadian subuh itu mengejutkan banyak pihak, khususnya karena dampaknya yang fatal. “Kejadian subuh tadi, korbannya kalau tidak salah pedagang ikan,” tambah Rommy, mengindikasikan bahwa korban adalah individu yang tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.
Pedagang Ikan Tak Berdosa Jadi Korban
Korban yang meninggal dunia diidentifikasi sebagai M. Dian Iqbal Saragih (33), seorang pedagang ikan warga Ujung Tanjung Lingkungan IV. Ia diduga kehilangan nyawanya karena terkena anak panah yang meleset dari sasaran sebenarnya, yang ditujukan antar kelompok yang bertikai.
“Meninggal dunia karena terkena sasaran anak panah yang menyasar,” jelas Rommy, membenarkan dugaan bahwa korban adalah warga sipil yang tidak bersalah. Peristiwa ini menyoroti bahaya tawuran yang tidak hanya mengancam para pelakunya, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.
Kematian M. Dian Iqbal Saragih menjadi pengingat pahit akan dampak destruktif dari kekerasan jalanan. Ia hanya sedang mencari nafkah, namun harus menghembuskan napas terakhirnya akibat ulah kelompok remaja yang tidak bertanggung jawab.
Baca Juga: Cekcok Rumah Tangga Berujung Nekat, Pria di Tapteng Bakar Rumah Sendiri
Modus Operandi Dan Senjata Berbahaya
Para pelaku tawuran di Belawan diketahui menggunakan berbagai alat berbahaya yang menunjukkan tingkat kekerasan yang semakin meningkat. Rommy mengungkapkan bahwa mereka tidak hanya menggunakan senjata tajam, tetapi juga panah, bahkan petasan, untuk menyerang lawan.
Selain itu, para pelaku juga melengkapi diri dengan alat pelindung. “Saling lempar menggunakan batu dan bambu panjang, membawa celurit, serta melengkapi diri dengan memakai helm dan tameng (pelindung diri),” kata Rommy, menggambarkan kesiapan mereka untuk saling melukai.
Penggunaan perlengkapan ini menunjukkan tingkat perencanaan dan keseriusan dalam bentrokan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat dan pihak berwenang mengenai eskalasi kekerasan yang terjadi.
Respon Cepat Kepolisian Dan Penyelidikan Lanjutan
Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Agus Purnomo, membenarkan insiden tawuran yang merenggut nyawa pedagang ikan tersebut. Pihak kepolisian segera bergerak cepat setelah menerima laporan kejadian, mengambil langkah-langkah awal penanganan.
“Ada pedagang ikan yang menjadi korban tawuran tersebut. Korban meninggal dunia,” kata Agus pada Minggu (8/2/2026), menegaskan status korban. Penegak hukum berkomitmen untuk mengungkap tuntas kasus ini dan menindak para pelaku.
Saat ini, jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk proses autopsi. Pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan intensif untuk menemukan pelaku dan motif di balik tawuran yang berujung maut ini.
Jangan lewatkan berita terkini Sumatera Indonesia beserta berbagai informasi menarik yang memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar pertama dari mediadelegasi.id
- Gambar Utama dari posmetromedan.com




